PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN BERBASIS KTSP
PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN BERBASIS
KTSP
I Pendahuluan
1.2
Latar Belakang
Kata pembelajaran dan penilaian tentunya
tidak asing untuk seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Dua hal ini
adalah proses yang tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang melakukan
pembelajaran maka diperlukan sebuah penilaian untuk membuktikan sejauh mana
perubahan yang telah dicapai. Begitu pula seorang guru yang melakukan
pembelajaran tentunya ingin sekali mengetahui
sampai sejauh mana perubahan yang dihasilkan peserta didik. Ini juga
merupakan tolak ukur bagi guru tersebut, apakah proses pembelajarannya sudah
benar. Jika ternyata penilaian yang dilakukan menghasilkan perubahan yang tidak
seperti diharapkan atau bahkan tidak ada perubahan sama sekali maka guru tidak
boleh ragu-ragu melakukan evaluasi terhadap proses pembelajarannya.
Pembelajaran merupakan upaya
membelajarkan siswa. Pembelajaran melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta
didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode pembelajaran,
media dan evaluasi (penilaian).
Untuk membelajarkan dan mengevaluasi
seseorang tentu diperlukan metode pembelajaran. Ada banyak metode pembelajaran.
Metode pembelajaran ini dapat dipilih disesuaikan dengan situasi dan kondisi
mata pelajaran serta peserta didik yang diajarkan. Karena itu diperlukan
kemampuan guru untuk menentukan metode mana yang dapat dipakai.
Kini Indonesia sudah menggunakan KTSP
sebagai kurikulum pendidikan. Yang membedakan KTSP dengan kurikulum sebelumnya
selain bahwa guru dan sekolah diberikan keleluasan untuk mengembangkan
kurikulum itu adalah pada sistem penilaiannya. Dalam KTSP tegas
disebutkan penilaian mengacu kepada penilaian acuan kriteria (patokan).
Artinya, sebelum melakukan pembelajaran, wajib ditetapkan standar nilai yang
menjadi patokan dalam penentuan kelulusan. Patokan penilaian ini dianalisis per
KD (Kompetensi Dasar). Model analisisnya dikenal dengan istilah Analisis KKM
(kriteria Ketuntasan Minimal) dahulu disebut Analisis SKBM (Standar Ketuntasan
Belajar Minimal).
Ada banyak cara melakukan penilaian. Dalam
KBK — KTSP penilaian dilakukan berbasis kompetensi dasar (KD). Ketuntasan
dilakukan per KD, artinya nilai yang diberikan kepada siswa harus per
KD. Nilai dalam tiap KD inilah yang menentukan lulus tidaknya siswa
pada KD tersebut. Siswa yang memperoleh nilai KD lebih dari atau sama
dengan KKM KD itu dinyatakan lulus dalam KD tersebut dan kepadanya boleh
diberi pengayaan. Sebaliknya, siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM pada KD
itu wajib diberi remedial melalu program remedial. Ingat, remedial bukan ujian
pengulangan tetapi wajib diberi perlakuan (melalui pembelajaran tatap muka,
penugasan, dll) yang diakhiri dengan ujian (lisan atau tertulis).
Begitu banyak strategi, metode, teknik
pembelajaran dan penilaian. Kita sebagai pendidik tentu harus memilik
pengetahuan tentang proses pembelajaran dan penilaian. Pentingnya pembelajaran
dan penilaian menjadi alasan penulis membuat makalah ini sehinga makalah ini
diberi judul Pembelajaran dan Penilaian
Berbasis KTSP.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang, penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
1.
Apakah semua strategi dan metode
pembelajaran bisa digunakan?
2.
Apakah pendidik perlu mengetahui berbagai macam strategi dan metode
pembelajaran?
3.
Apakah guru harus melakukan penilaian terhadap peserta didik?
4.
Apakah penilaian dapat mengukur perubahan seseorang?
5. Apakah guru harus mengetahui macam-macam
penilaian?
6. Adakah hubungan pembelajaran dengan
penilaian peserta didik?
1.3 Tujuan penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk
mengiformasikan bagi para pembaca, bahwa betapa pentingnya startegi, metode
pembelajaran dan penilaian dikuasai oleh pendidik, dan pendidik bisa menerapkan
ketika mengajar.
II Pembahasan
2.1 Pembelajaran
Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai
suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang
direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar
subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara
efektif dan efisien (Kokom Komalasari, 2011:3). Artinya dalam proses pembelajaran
diperlukan pendekatan, strategi, dan metode, teknik dan model pembelajaran yang
dirancang untuk menncapai tujuan pembelajaran.
2.1.1 Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan
pembelajaran adalah sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan
pelajaran dibagi menjadi dua, yaitu: 1) pendekatan pembelajaran yang berpusat
pada siswa (student centered approach)
dan 2) pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centerd approach).
2.1.2 Strategi Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan menurut JR. David,
1976 (Wina Sanjaya, 2011:126), strategy
is a plan, methods, or series of activities designed to achieves a particular
educational goal. Ini berarti strategi pembelajaran adalah sebuah rencana,
metode atau serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Menurut Kemp,1955(Wina Sanjaya: 2011:126 ), strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh guru
dan siswa agar tujuan pembelajaran dicapai secara efektif dan efisien. Sedangkan
menurut Dick and Carey (1985), strategi pembelajaran adalah suatu set materi
dan prosedur pembelajaran yang digunakan
bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
2.1.3 Macam-macam Strategi Pembelajaran
1. Strategi Pembelajaran Ekspositori (Expository Learning)
Stategi
pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok
siswa dengan maksud agar siswa menguasai materi pelajaran secara optimal (Wina
Sanjaya, 2006:179).
Pada strategi ini siswa tidak dituntut untuk
menemukan materi tersebut. Guru memegang peranan secara dominan. Ketika
pelajaran dimulai guru memberikan penjelasan secara lisan (ceramah). Dalam hal
ini siswa diharapkan memahami penjelasan guru tadi kemudian setelah penjelasan
selesai siswa dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.
Keunggulan dan Kelemahan Strategi Ekspositori
adalah sebagai berikut.
A. Keunggulan
1. Guru bisa mengontrol urutan dan
keleluasaan materi pembelajaran, dengan demikian dia dapat mengontrol sejauh
mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
2. Baik untuk materi yang cukup banyak,
sementara waktu yang dimiliki untuk belajar hanya sedikit.
3. Siswa dapat mendengar sekaligus
melihat langsung materi dan pelaksanaan demonstrasi. Cara ini cocok untuk siswa
yang memiliki tipe belajar auditory dan visual.
4.
Cocok untuk jumlah siswa yang banyak.
B. Kelemahan
1. Karena strategi ini lebih banyak
ceramah maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa.
2.
Keberhasilan strategi ini tergantung pada apa yang dimiliki guru,
seperti, persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme,
motivasi, dan kemampuan berbicara. Tanpa itu semua proses pembelajaran tidak
akan berhasil.
3. Strategi ini hanya cocok untuk siswa yang
mempunyai tipe auditory (kemampuan mendengar dan menyimak).
2.
Strategi Pembelajaran Inkuiri (Inquiry
Learning)
Pada strategi ini materi pelajaran tidak
diberikan secara langsung. Para siswa diharapkan mampu mencari dan menemukan
sendiri materi ini. Strategi ini lebih menekankan pada proses mencari dan
menemukan informasi. Strategi ini sesuai dengan aliran kognitif yang diusung
oleh Piaget, Ausubel dan Bruner. Bagi siswa yang sudah memahami prinsip
penjumlahan, ketika gurunya memperkenalkan perkalian, maka proses
pengintegrasian antara penjumlahan ke perkalian akan sangat mudah dilakukan
oleh siswa tersebut.
Keunggulan
dan kelemahan startegi inkuiri adalah sebagai berikut.
A.
Keunggulan
1. Strategi ini memberikan kebebasan
kepada siswa untuk belajar sesuai gaya belajar mereka.
2. Menekankan aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik secara seimbang.
3. Strategi ini sesuai dengan keadaan
zaman yang berubah modern.
4. Strategi ini cocok untuk siswa yang
memiliki kemampuan di atas rata-rata.
B.
Kelemahan
1. Dengan
strategi ini sulit mengontrol keberhasilan siswa.
2. Sulit merencanakan pembelajaran
karena terbentur dengan kebiasaan belajar siswa.
3. Untuk mengimplementasikannya
memerlukan waktu yang panjang. Hal ini merupakan kendala bagiguru yang memiliki
waktu mengajar yang pendek.
3. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Menurut
Wina Sanjaya, 2006:213, strategi pembelajaran berbasis masalah, guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah
mempersiapkan apa yang harus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan agar siswa
mampu menyelesaikan masalah secara sistematis.
Keunggulan
dan kelemahan strategi pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut.
A.
Keunggulan
1.
Pemecahan masalah adalah teknik
yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2. Pemecahan masalah dapat menantang
kemampuan siswa sertamemberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru,
berpikir kritis dan mengaplikasikan pengetahuan yang mereka milik.
3.
Pemecahan masalah dapat
mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar
pada pendidikan formal telah berakhir.
B.
Kelemahan
1. Manakala siswa tidak memiliki minat atau
tidak mempunyai kepercayaan bahwa maslah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan
maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran
melalui problem solving membutuhkan waktu cukup untuk persiapan.
3.
Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
4. Strategi Pembelajaran Koorperatif (Coorperative
Learning)
Pembelajran
Koorperatif disebut juga pembelajaran kelompok dilakukan oleh siswa dalam
kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan.
Slavin (Wina Sanjaya, 2011:242) mengemukakan dua alasan. Pertama, beberapa hasil penelitian
membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran koorperatif dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial,
menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain serta dapat
meningkatkan harga diri. Kedua,
pembelajaran koorperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam berpikir,
memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan.
Keunggulan dan kelemahan strategi pembelajaran koorperatif adalah
sebagai berikut.
A.
Keunggulan
1.
Dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir.
2. Membantu memberdayakan setiap siswa
untuk lebih bertanggung jawab.
3. Dapat meningkatkan prestasi akademik,
hubungan sosial, mengembangkan rasa harga diri, dan mengembangkan kemampuan
untuk memenage waktu.
4. Dapat mengembangkan kemampuan siswa
untuk menuangkan dan menguji ide dan pemahamannya sendiri tanpa takut berbuat
kesalahan karena keputusan adalah tanggung jawab kelompok.
B.
Kelemahan
1. Untuk siswa yang memiliki kemampuan
lebih akan sulit menyesuaikan diri dengan siswa yang lambat. Oleh karena itu
strategi ini memerlukan waktu untuk menjadi sebuah kelompok yang solid.
2. Penilaian kepada siswa didasarkan
pada kelompok. Namun guru perlu menyadari keberhasilan ditentukan oleh
masing-masing individu.
3. Banyak aktivitas yang hanya
didasarkan pada kemampuan individual, oleh karena selain siswa belajar bekerja
sama, siswa harus membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu
bukan pekerjaan yang mudah.
5. Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning)
Strategi
pembelajaran kontestual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan
kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Pembelajaran kontekstual berdasarkan
filosofi konstruktivisme. Menurut Glasersfelf (Kokom Komalasari, 2011:15), konstruktivisme
adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekakankan bahwa pengetahuan kita
adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri.
Ditjen
Dikdasmen menjabarkan kecenderungan tentang belajar berdasarkan
konstruktiivisme, yaitu 1) proses belajar,
2) transfer belajar 3), siswa
sebagai pembelajar , 4) pentingnya lingkungan belajar.
Strategi ini sekarang menjadi pembicaraan
di kalangan guru sebagai strategi yang paling pas untuk diterapkan karena
sesuai dengan pembelajaran berbasis kompetensi yang menekankan pembelajaran ke
arah penciptaan dan peningkatan serangkaian kemampuan dan potensi siswa agar
dapat mengantisipasi tantangan dalam
kehidupannya. Ini berarti apabila selama ini pembelajaran lebih menekankan pada
aspek pengetahuan dan terget materi yang cenderung lebih kearah verbal , saat
ini lebih ditekankan pada aspek kompetensi dan target keterampilan.
6.
Strategi Pembelajaran Afektif ( Afective
Learning)
Strategi pembelajaran afektif menekankan pada
nilai (value) yang sulit diukur,
dimana nilai itu ditanamkan kedalam jiwa peserta didik. Karenanya hal ini berkaitan
dengan kesadaran siswa itu sendiri. Apakah perilakunya bertentangan dengan
norma-norma ataukah tidak.
Douglas Graham (Wina Sanjaya, 2011:274)
melihat empat faktor yang merupakan kepatuhan seseorang terhadap nilai
tertentu, yaitu:
1.
Normativis. Biasanya kepatuhan pada
norma-norma hukum.
2.
Integralist. Yaitu kepatuhan yang
didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan rasional.
3.
Fenomalist. Yaitu kepatuhan yang
berdasarkan kepada suara hati atau sekedar basa-basi.
4.
Hedonist. Yaitu kepatuhan berdasarkan
kepentingan diri sendiri.
Gulo (Wina Sanjaya, 2011:128) menyimpulkan
tentang nilai:
1.
Nilai tidak bisa diajarkan tetapi diketahui dari penampilannya.
2.
Pengembangan domain afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek
kognitif dan psikomotorik.
3.
Masalah nilai adalah masalah emosional dan karenaitu dapat berubah, berkembang,
sehingga bisa dibina.
4.
Perkembangan nilai atau moral tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap
tertentu.
Di negara kita saat ini pendidikan
karakter bangsa bangsa harus bisa diintegrasikan dalam setiap pembelajaran
sebagai bentuk implementasi strategi pembelajaran afektif. Hal ini sesuai
dengan tujuan dari pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan YME, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.
Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa
ditanamkan oleh guru disetiap pertemuan sehingga pad akhirnya tidak hanya aspek
kompetansi dan terget keterampilan saja yang dicapai namun nilai-nilai afektif
yang positif terinternalisasi di setiap tutur kata dan perbuatan siswa.
2.1.4 Metodelogi
Pembelajaran
Metodelogi pembelajaran adalah cara yang
digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan
nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (Wina Sanjaya,
2011:147). Berikut ini beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasi strategi pembelajaran.
Berdasarkan
pemberian informasi:
-
Metode Ceramah
-
Metode
Tanya Jawab
-
Metode
Demonstrasi
Berdasarkan
pemecahan masalah:
-
Metode Curah Pendapat (Brainstorming)
-
Metode
Diskusi Kelompok
-
Metode Rembuk Sejoli
-
Metode
Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group)
-
Metode
Panel
-
Metode
Forum Debat
-
Metode
Seminar
-
Metode
Simposium
Berdasarkan penugasan:
-
Metode
Latihan (Drill)
-
Metode
Penugasan
(Resitasi)
-
Metode
Permainan:
DIAD
Kubus Pecah
Role Playing
Sosiodrama
Simulasi
-
Metode
Kelompok
Kerja (Workshop)
-
Metode
Studi
Kasus
-
Metode
Karyawisata
1. Metode Ceramah
Metode
Ceramah
yaitu cara
penyampaian
informasi secara lisan yang dilakukan oleh guru kepada
peserta didik. Metode ini merupakan yang
paling banyak digunakan dalam kesempatan penyampaian informasi
dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Hal ini diakibatkan
adanya kemampuan setiap orang untuk berkomunikasi
atau menyampaikan
pesan kepada orang lain.
2. Metode Tanya Jawab
Metode Tanya Jawab yaitu cara
penjelasan informasi
yang pelaksanaannya saling
bertanya
dan menjawab antara guru dengan peserta didik.
3. Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi yaitu cara memperagakan sesuatu hal yang pelakasanaannya diawali oleh peragaan guru kemudian diikuti oleh peserta didik. Hal yang diperagakan adalah harus kegiatan yang sebenarnya, tidak bersifat abstrak.
4. Metode
Curah Pendapat (Brainstorming)
Metode Brainstorming atau Curah Pendapat yaitu cara untuk menghimpun gagasan atau pendapat dari setiap pesertta dididk tentang suatu permasalahan.
5. Metode Diskusi Kelompok
Metode Diskusi Kelompok yaitu cara pembahasan suatu masalah oleh sejumlah anggota kelompok untuk mencapai suatu kesepakatan.
6. Metode
Rembuk Sejoli
Metode Rembuk Sejoli yaitu cara pemecahan suatu masalah yang pelaksanaannya adalah
peserta didik dalam kelompok dibagi secara berpasangan kemudian dalam waktu yang singkat masing- masing kelompok membahas suatu masalah dan diakhiri dengan penyampaian laporan nya oleh masing-masing juru bicara dalam kelompok
besar.
7.
Metode Diskusi Kelompok Kecil (Buzz
Group)
Metode Buzz Group
yaitu cara
pembahasan
suatu masalah yang pelaksanaannya peserta didik dibagi dalam
kelompok
kecil
antara tiga
sampai
enam
orang membahas suatu masalah yang
diakhiri
dengan penyampaian hasil pembahasannya
oleh setiap juru
bicara
pada kelompok besar.
8.
Metode Panel
Metode Panel yaitu
cara pembahasan
suatu
masalah melalui kegiatan diskusi yang dilakukan
oleh beberapa akhli
dari berbagai keakhlian
dihadapan peserta didik.
9. Metode Forum
(Debate)
Metode forum (debate) adalah cara pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi terbuka
yang disampaikan oleh beberapa nara
sumber dengan topik masalah yang
kontroversial.
10. Metode Seminar
Metode
Seminar yaitu
cara
penyampaian informasi
berdasarkan hasil
penelitian
yang diikuti
dengan
kegiatan diskusi oleh seluruh peserta didik dibawah bimbingan sumber belajar. Kegiatan penelitian yang
dilakukan
oleh peserta didik dapat berdasarkan hasil penelitian tentang suatu
kasus/masalah, dapat
juga hasil bacan/literatur.
11. Metode Simposium
Metode
Simposium yaitu cara penyampaian
materi secara
lisan yang dilakukan berupa
kegiatan ceramah
oleh beberapa
orang nara sumber.
12. Metode Latihan (Drill)
Metode
drill yaitu cara melatih peserta didik tentang
kegiatan-kegiatan
tertentu secara berulang-ulang dengan materi
yang sama.
13. Metode Penugasan
(Resitasi)
Metode Resitasi
yaitu cara pemberian
tugas yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik yang
pelaksanaannya dapat
dilakukan
di dalam kelas maupun di luar kelas, serta
dapat dilakukan
secara individual
maupun kelompok.
14. Metode DIAD
Metode DIAD yaitu cara komunikasi diantara dua orang baik secara lisan maupun tertulis terutama menyangkut identitas dari masing-masing
pribadi.
15. Metode Kubus Pecah (Broken Square)
Metode
Broken Square yaitu
cara
penyusunan
pecahan-pecahan
Bujursangkar yang dilakukan
oleh empat
atau lima
kelompok menjadi
bentuk bujur
sangkar yang utuh.
16.
Metode
Bermain Peran (Role Playing)
Metode Role Playing yaitu cara permainan yang pelaksanaannya berupa peragaan secara singkat oleh peserta didik dengan tekanan utama pada karakteristik/sifat seseorang dengan dasar memerankan cuplikan tingkah laku dalam
situasi
tertentu,
yang
dilanjutkan
dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang
baru diperagakan.
17. Metode Sosiodrama
Metode Sosiodrama
yaitu
cara
permainan
yang
pelaksanaannya berupa peragaan oleh peserta didik dengan tekanan
utama pada
karakteristik/sifat seseorang dengan dasar memerankan tingkah laku
dalam situasi tertentu
dengan didasarkan
pada cerita yang utuh, yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan.
18. Metode Simulasi
Metode
Simulasi yaitu cara
permainan
yang
berupa
cuplikan
suatu
situasi kehidupan nyata yang
diangkat
ke dalam kegiatan belajar.
19.
Metode
Kelompok Kerja
(Workshop)
Metode kelompok
kerja adalah cara
pembelajaran
yang
melibatkan peserta
dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas.
20.
Metode
Studi Kasus
Metode studi kasus yaitu cara penelaahan suatu kasus nyata di lapangan melalui kegiatan penelitian, yang diakhiri dengan kegiatan penyampaian laporan.
21. Metode Karyawisata
Metode Karyawisata
yaitu cara
mengunjungi
suatu
tempat/objek tertentu
dengan melibatkan
seluruh
warga belajar, dengan kegiatan
ada
unsur karya dan unsur
wisatanya.
2.2
Penilaian (Assesment)
Sebelum
guru melakukan penilaian kepada peserta didik, tentunya guru harus mempunyai
cara untuk melakukan penilaian. Istilah ini disebut dengan pengukuran (measurement),
dimana pengukuran ini akan menghasilkan data berupa angka-angka. Maka
pengukuran adalah pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari
suatu tingkatan dimana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu.
Peraturan Menteri Pendidikan no 20 tahun
2007 menyebutkan standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan
yang berkaitan dengan mmekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil
peserta didik. Standar penilaian pendidikan terdiri atas penilaian hasil
belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dan penilaian
hasil belajar oleh pemerintah.
Penilaian hasil belajar oleh peserta
didik terdiri dari:
Ulangan
harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan
kelas. Jadi, penilaian adalah penerapan berbagai prosedur, cara dan penggunaan
beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi sejauh mana ketercapaian
hasil belajar atau kompetensi siswa.
A.
Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran dilakukan melalui:
1.
Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk aspek afektif.
2.
Ujian, ulangan dan/atau penugasan untuk aspek kognitif.
B. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran
kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:
1.
Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk aspek afektif.
2.
Ujian, ulangan dan/atau penugasan untuk aspek kognitif.
C. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran
ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui:
1.
Ulangan
2.
Penugasan dan/atau
3.
Bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai
D.
Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui:
Pengamatan
terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk aspek afektif dan ekspresi
psikomotorik.
E. Penilaian hasil belajar kelompok mata
pelajaran jasmani,olahraga dan kesehatan
dilakukan melalui:
1. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap
untuk aspek afekktif dan ekspresi psikomotorik.
2.
Ulangan dan/atau penugasan untuk aspek kognitif.
Selain
penilaian-penilaian di atas ada juga penilaian dalam standar proses. Penilaian
standar proses adalah penilaian hasil belajar menggunakan berbagai teknik
penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. Teknik penillaian
dapat berupa tes tertulis, observasi, tes praktik, penugasan perseorangan, atau
kelompok.
2.2.1 Penilaian Kelas
Penilaian
kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil
belajar siswa yang dilakukan guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut
akan mengukur apa yang hendak diukur dari siswa. Penilaian kelas dilakukan oleh
guru untuk mengetahui tingkat penguasaan
kompetensi yang ditetapkan bersifat internal, bagian dari pembelajaran, dan
sebagai bahan untuk peningkatan mutu hasil belajar.
Seperti yang telah dijelaskan pada sub
bab latar belakang, bahwa penilaian dalam KTSP mengacu pada kompetensi dasar
yang telah ditetapkan. Ketuntasan dilakukan per KD, artinya nilai yang
diberikan kepada siswa harus per KD. Nilai dalam tiap KD inilah yang
menentukan lulus tidaknya siswa pada KD tersebut. Siswa yang memperoleh
nilai KD lebih dari atau sama dengan KKM KD itu dinyatakan lulus
dalam KD tersebut dan kepadanya boleh diberi pengayaan. Sebaliknya, siswa yang
memperoleh nilai di bawah KKM pada KD itu wajib diberi remedial melalu program
remedial.
Digunakan
istilah kelas tidak berarti penilaiannya hanya dilakukan di dalam kelas.
Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu denga kegiatan belajar mengajar.
Penilaian kelas dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas, secara formal
dan informal atau dilakukan secara khusus.
2.2.2 Manfaat Penilaian Kelas
Manfaat
penilaian kelas adalah:
1.Sebagai
umpan balik siswa agar mengetahui kemampuan dan kekurangannya.
2.
Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami siswa.
3.
Sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
4.
Sebagai informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas
pendidikan.
Menurut Kokom Komalasari, 2011:146, masih
ada istilah yang berkaitan dengan penilaian yaitu evaluasi (evaluation). Evaluasi merupakan
penilaian terhadap keseluruhan program (termasuk didalamnya pelaksanaan
penilaian) serta hasil-hasil yang dicapai oleh program pendidikan. Hubungan
antara pengukuran, penilaian dan evaluasai dalam pendidikan dapat dilihat dalam
gambar berikut.
![]() |
Gambar 1.
Hubungan antara Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi
(Sumber:
Kokom Komalasari, 2011:147)
Dari gambar di atas dapat disimpulkan pengukuran
merupakan tahap awal dalam proses penilaian, penilaian merupakansalah satu
aspek dari evaluasi pendidikan, sedangkan evaluasi merupakan penilaian terhadap
keseluruhan program pendidikan.
2.2.3 Bentuk
Penilaian
|
![]() |
|||||
![]() |
|||||
Gambar
2. Diagram Teknik Penilaian
Ada
berbagai bentuk penilaian yang biasa dilakukan dalam penilaian kelas yaitu,
penilaian unjuk kerja (performance),
penilaian penugasan (project),
penilaian hasil kerja (product),
penilaian tes tertulis (paper & pen),
penilaian portofolio (portofolio),
penilaian sikap.
1. Penilaian Unjuk Kerja (Performance)
Penilaian
unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap
aktivitas siswa. Penilaian ini biasanya digunakan untuk menilai kemampuan
siswa dalam berpidato, pembacaan puisi,diskusi, pemecahan
masalah, partisipasi siswa dalam diskusi, menari, memainkan alat
musik, aktivitas olahraga, menggunakan perangkat laboratorium, mengoperasikan
suatu alat, dan aktivitas lain yang bisa diamati/diobservasi.
2. Penilaian Penugasan (Project)
Penilaian
melalui proyek dilakukan terhadap suatu tugas atau penyelidikan secara individual
atau kelompok untuk periode tertentu. Tugas tersebut berupa investigasi sejak
dari perencanaan,pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian
data.
3. Penilaian Hasil
Kerja (Product),
merupakan penilaian terhadap siswa untuk
membuat produk-produk teknologi dan seni seperti, makanan, pakaian, hasil karya
seni (gambar, lukisan, pahatan), barang-barang terbuat dari kayu, keramik,
plastik dan logam. Cara ini tidak hanya melihat hasil akhirnya saja tetapi juga
dari proses pembuatannya, contoh kemampuan siswa melakukan teknik menggambar,
menggunakan peralatan dengan aman, membakar kue dengan hasil baik,bercita rasa
enak dan berpenampilan menarik.
4. Penilaian Tes
Tertulis (Paper & Pen)
Tes
tertulis biasanya untuk waktu yang terbatas dan dalam kondisi waktu terbatas
dan dalam kondisi tertentu. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban
yang diberikan kepada siswa dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab tulisan siswa
tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk
yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.
5. Penilaian Portofolio (Portofolio)
Penilaian
portofolioadalah penilaian berdasarkan kumpulan hasil kerja siswa. Portofolio
dihasilkan dari pengalaman belajar atau
pembelajaran siswa dalam periode waktu tertentu. Portoofolio merupakan koleksi
pribadi hasil pekerjaan seseorang yang menggambarkan taraf pencapaian, kegiatan
belajar, kekuatan, dan pekerjaan terbaik siswa. Contoh karya-karya yang
dimasukkan dalam penilaian portofolio, puisi, karangan, gambar/tulisan,
peta/denah, desain, paper, laporan observasi, laporan penyelidikan, laporan
penelitian, laporan eksperimen, sinopsis, naskah pidato/khotbah, naskah drama,
naskah doa,rumus, kartu ucapan, surat, komposisi musik, teks lagu, resep
masakan.
6. Penilaian Sikap
Penilaian
sikap merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati perasaan, kepercayaan
atau keyakinan siswa dan kecenderungan untuk berperilaku berkaitan dengan suatu
objek (Kokom Komalasari, 2011-156).
Ojek
sikap yang perlu dinilai:
1. Sikap terhadap materi pelajaran.
Siswa perlu memilki sikap positif terhadap mata pelajaran.
2. Sikap terhadap guru/pengajar. Siswa
perlu memiliki sikap positif terhadap guru, sehingga dapat memusatkan perhatian
pada apa yang diajarkan oleh guru dan pada akhirnya mudah menyerap materi.
3. Sikap terhadap siswa lain (teman).
Siswa perlu memiliki sikap sosial yang baik terhadap teman-temannya.
4. Sikap terhadap proses pembelajaran.
Siswa juga perlu memiliki sikap yang baik terhadap suasana pembelajaran,
startegi, metodelogi dan teknik pembelajaran yang digunakan, sehingga mendapat
hasil yang maksimal.
5. Sikap yang berkaitan dengan nilai
atau norma yang berhubungan dengan mata pelajaran. Siswa perlu memiliki sikap
yang tepat yang dituntut kompetensi dasar.
2.2.4 Ujian (Examination)
Sebelum
akhir dari proses penilaian ditentukan ada yang disebut dengan ujian. Ujian
adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pembenaran dari suatu atribut,
pengakuan, atau kualitas dari suatu barang, jasaatau kompetensi. Contohnya,
pengujian air bersih, pengujian kompetensi siswa, dan sebagainya. Oleh karena
itu ujian adalah proses penilaian yang harus dilewati oleh siswa. Ujian
dilaksanakan berdasarkan waktu yang ditentukan.
Setelah
ujian dilaksanakan dan penilaian diberikan, maka dilakukan evaluasi. Evaluasi
ini dilakukan antara lain di bidang kurikulum, kebijakan pendidikan, sumber
belajar tertentu,etos kerja guru dan tentu saja siswa itu sendiri.
III Penutup
3.1 Kesimpulan
1. Pembelajran pada dasarnya adalah
proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika seorang guru berfikir
informasi dan kemampuan apa yang harus dimilki oleh siswa maka guru seharusnya
berfikir strategi dan metoode apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat
tercapai secara efektif dan efisien. Begitu banyak strategi dan metode pembelajaran
bukan berarti semua cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua
keadaan. Guru harus memiliki kemampuan untuk dapat memilih strategi dan metode mana
yang paling pas untuk melaksanakan proses pembelajaran.
2. Sudah dapat dipastikan bahwa seorang
guru harus mengetahui berbagai jenis strategi dan metode pembelajaran agar
dapat menentukan mana yang paling sesuai untuk digunakan. Tanpa pengetahuan
tentang strategi dan metode pembelajaran dikhawatirkan guru tidak mempunyai
pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
3. Penilaian adalah penerapan berbagai prosedur,
cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi sejauh
mana ketercapaian hasil belajar atau kompetensi siswa. Seorang guru harus
melakukan penilaian sebagai penanggung jawab pproses pembelajaran yang nantinya
penilaian itu akan menjadi tolak ukur bagi guru untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan siswa dan untuk memperbaiki kekurangan guru ketika melakukan
proses pembelajaran.
4. Penilaian dapat mengukur perubahan seseorang
karena sebelum penilaian ditentukan terdapat prose pengumpulan data yang
berguna bagi guru untuk mnegetahui perubahan yang terjadi.
5. Sama seperti strategi dan metode pembelajaran, seorang
guru hendaknya memiliki pengetahuan tentang macam-macam penilaian. Supaya tidak
satupun perubahan siswa yang tidak diketahui oleh seorang guru. Disamping itu
guru akan lebih mengenal diri siswa dimana letak kelemahan dan kekuatannya.
6. Pembelajaran adalah proses, sedangkan penilaian
adalah muara dari pembelajaran. Penghargaan seseorang di dapat dari
pembelajaran dan penilaian.
3.2
Saran
1. Strategi dan metode mengajar hendaknya
disesuaikan dengan keadaan dan kondisi sekolah dan siswa agar apa yang
disampaikan dapat dicerna, dikuasai dan
dimengerti oleh peserta didik.
2. Pendidik hendaknya mempunyai keterampilan
strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi.
3. Bagi mereka yang terlibat di dunia keguruan,
hendaknya secara antusias untuk meningkatkan wawasan/ilmu pengetahuan,
khususnya yang terkait, baik langsung maupun tidak langsung dengan dunia
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
I. Khoiru, Sofan Amri, Hendro Ari setyono, Tatik Elisah (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP.
Jakarta. Prestasi Pustakaraya.
Komalasari, K.
(2011). Pembelajaran Kontekstual Konsep
dan Aplikasi. Bandung. Refika Aditama.
Keputusan Direktur Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah NOMOR : 251/C/KEP/MN/2008 TENTANG
SPEKTRUM KEAHLIAN PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN.
Muslich,
M. (2009). KTSP Pembelajaran Berbasis
Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta. Bumi Aksara.
Sanjaya,
W. (2010). Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta.Kencana.
Training
Pembuatan Perangkat Pengajaran. (2011). Lampung Selatan. SMK Negeri 1 Natar.



