Selasa, 26 Juni 2012

PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN BERBASIS KTSP


PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN BERBASIS KTSP

I     Pendahuluan
       1.2   Latar Belakang
Kata pembelajaran dan penilaian tentunya tidak asing untuk seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Dua hal ini adalah proses yang tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang melakukan pembelajaran maka diperlukan sebuah penilaian untuk membuktikan sejauh mana perubahan yang telah dicapai. Begitu pula seorang guru yang melakukan pembelajaran tentunya ingin sekali mengetahui  sampai sejauh mana perubahan yang dihasilkan peserta didik. Ini juga merupakan tolak ukur bagi guru tersebut, apakah proses pembelajarannya sudah benar. Jika ternyata penilaian yang dilakukan menghasilkan perubahan yang tidak seperti diharapkan atau bahkan tidak ada perubahan sama sekali maka guru tidak boleh ragu-ragu melakukan evaluasi terhadap proses pembelajarannya.
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa. Pembelajaran melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode pembelajaran, media dan evaluasi (penilaian).
Untuk membelajarkan dan mengevaluasi seseorang tentu diperlukan metode pembelajaran. Ada banyak metode pembelajaran. Metode pembelajaran ini dapat dipilih disesuaikan dengan situasi dan kondisi mata pelajaran serta peserta didik yang diajarkan. Karena itu diperlukan kemampuan guru untuk menentukan metode mana yang dapat dipakai.
Kini Indonesia sudah menggunakan KTSP sebagai kurikulum pendidikan. Yang membedakan KTSP dengan kurikulum sebelumnya selain bahwa guru dan sekolah diberikan keleluasan untuk mengembangkan kurikulum itu adalah pada sistem penilaiannya. Dalam KTSP tegas disebutkan penilaian mengacu kepada penilaian acuan kriteria (patokan). Artinya, sebelum melakukan pembelajaran, wajib ditetapkan standar nilai yang menjadi patokan dalam penentuan kelulusan. Patokan penilaian ini dianalisis per KD (Kompetensi Dasar). Model analisisnya dikenal dengan istilah Analisis KKM (kriteria Ketuntasan Minimal) dahulu disebut Analisis SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal).
Ada banyak cara melakukan penilaian. Dalam KBK — KTSP penilaian dilakukan berbasis kompetensi dasar (KD). Ketuntasan dilakukan per KD, artinya nilai yang diberikan kepada siswa harus per KD. Nilai dalam tiap KD  inilah yang menentukan lulus tidaknya siswa pada KD tersebut. Siswa yang memperoleh nilai KD lebih dari atau sama dengan KKM KD itu dinyatakan lulus dalam KD tersebut dan kepadanya boleh diberi pengayaan. Sebaliknya, siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM pada KD itu wajib diberi remedial melalu program remedial. Ingat, remedial bukan ujian pengulangan tetapi wajib diberi perlakuan (melalui pembelajaran tatap muka, penugasan, dll) yang diakhiri dengan ujian (lisan atau tertulis).
Begitu banyak strategi, metode, teknik pembelajaran dan penilaian. Kita sebagai pendidik tentu harus memilik pengetahuan tentang proses pembelajaran dan penilaian. Pentingnya pembelajaran dan penilaian menjadi alasan penulis membuat makalah ini sehinga makalah ini diberi judul Pembelajaran dan Penilaian Berbasis KTSP.
1.2 Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang, penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
1. Apakah semua  strategi dan metode pembelajaran bisa digunakan?
2. Apakah pendidik perlu mengetahui berbagai macam strategi dan metode pembelajaran?
3. Apakah guru harus melakukan penilaian terhadap peserta didik?
4. Apakah penilaian dapat mengukur perubahan seseorang?
5.  Apakah guru harus mengetahui macam-macam penilaian?
  6. Adakah hubungan pembelajaran dengan penilaian peserta didik?

1.3 Tujuan penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengiformasikan bagi para pembaca, bahwa betapa pentingnya startegi, metode pembelajaran dan penilaian dikuasai oleh pendidik, dan pendidik bisa menerapkan ketika mengajar.

II     Pembahasan
        2.1  Pembelajaran
Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien (Kokom Komalasari, 2011:3). Artinya dalam proses pembelajaran diperlukan pendekatan, strategi, dan metode, teknik dan model pembelajaran yang dirancang untuk menncapai tujuan pembelajaran.
                2.1.1 Pendekatan Pembelajaran
  Pendekatan pembelajaran adalah sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan pelajaran dibagi menjadi dua, yaitu: 1) pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach) dan 2) pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centerd approach).
                2.1.2 Strategi Pembelajaran
                                      Dalam dunia pendidikan menurut JR. David, 1976 (Wina Sanjaya, 2011:126), strategy is a plan, methods, or series of activities designed to achieves a particular educational goal. Ini berarti strategi pembelajaran adalah sebuah rencana, metode atau serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Kemp,1955(Wina Sanjaya: 2011:126 ), strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dicapai secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut Dick and Carey (1985), strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur  pembelajaran yang digunakan bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.



2.1.3  Macam-macam Strategi Pembelajaran
          1. Strategi Pembelajaran Ekspositori (Expository Learning)
                    Stategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa menguasai materi pelajaran secara optimal (Wina Sanjaya, 2006:179).
 Pada strategi ini siswa tidak dituntut untuk menemukan materi tersebut. Guru memegang peranan secara dominan. Ketika pelajaran dimulai guru memberikan penjelasan secara lisan (ceramah). Dalam hal ini siswa diharapkan memahami penjelasan guru tadi kemudian setelah penjelasan selesai siswa dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.
                                     Keunggulan dan Kelemahan Strategi Ekspositori adalah sebagai berikut.
                          A. Keunggulan
1. Guru bisa mengontrol urutan dan keleluasaan materi pembelajaran, dengan demikian dia dapat mengontrol sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
2. Baik untuk materi yang cukup banyak, sementara waktu yang dimiliki untuk belajar hanya sedikit.
3. Siswa dapat mendengar sekaligus melihat langsung materi dan pelaksanaan demonstrasi. Cara ini cocok untuk siswa yang memiliki tipe belajar auditory dan visual.
4.  Cocok untuk jumlah siswa yang banyak.
                           B. Kelemahan
1. Karena strategi ini lebih banyak ceramah maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa.
2.  Keberhasilan strategi ini tergantung pada apa yang dimiliki guru, seperti, persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, dan kemampuan berbicara. Tanpa itu semua proses pembelajaran tidak akan berhasil.
3.    Strategi ini hanya cocok untuk siswa yang mempunyai tipe auditory (kemampuan mendengar dan menyimak).
                          2.  Strategi Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)
                                Pada strategi ini materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Para siswa diharapkan mampu mencari dan menemukan sendiri materi ini. Strategi ini lebih menekankan pada proses mencari dan menemukan informasi. Strategi ini sesuai dengan aliran kognitif yang diusung oleh Piaget, Ausubel dan Bruner. Bagi siswa yang sudah memahami prinsip penjumlahan, ketika gurunya memperkenalkan perkalian, maka proses pengintegrasian antara penjumlahan ke perkalian akan sangat mudah dilakukan oleh siswa tersebut.
                                                Keunggulan dan kelemahan startegi inkuiri adalah sebagai berikut.


                               A. Keunggulan
1. Strategi ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sesuai gaya belajar mereka.
2. Menekankan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang.
3. Strategi ini sesuai dengan keadaan zaman yang berubah modern.
4. Strategi ini cocok untuk siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
                             B.  Kelemahan
                                    1. Dengan strategi ini sulit mengontrol keberhasilan siswa.
2. Sulit merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan belajar siswa.
3. Untuk mengimplementasikannya memerlukan waktu yang panjang. Hal ini merupakan kendala bagiguru yang memiliki waktu mengajar yang pendek.
                          3. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
                               Menurut Wina Sanjaya, 2006:213, strategi pembelajaran berbasis  masalah, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang harus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan masalah secara sistematis.
                                    Keunggulan dan kelemahan strategi pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut.
                               A. Keunggulan
1.   Pemecahan masalah adalah teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa sertamemberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru, berpikir kritis dan mengaplikasikan pengetahuan yang mereka milik.
3.   Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
                               B. Kelemahan
1.   Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa maslah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan waktu cukup untuk persiapan.
3.   Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.


                          4. Strategi Pembelajaran Koorperatif  (Coorperative Learning)
                               Pembelajran Koorperatif disebut juga pembelajaran kelompok dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
      Slavin (Wina Sanjaya, 2011:242) mengemukakan dua alasan. Pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran koorperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran koorperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam berpikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan.
      Keunggulan dan kelemahan strategi pembelajaran koorperatif adalah sebagai berikut.
                               A. Keunggulan
                                    1. Dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir.
2. Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab.
3. Dapat meningkatkan prestasi akademik, hubungan sosial, mengembangkan rasa harga diri, dan mengembangkan kemampuan untuk memenage waktu.
4. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menuangkan dan menguji ide dan pemahamannya sendiri tanpa takut berbuat kesalahan karena keputusan adalah tanggung jawab kelompok.
                               B. Kelemahan
1. Untuk siswa yang memiliki kemampuan lebih akan sulit menyesuaikan diri dengan siswa yang lambat. Oleh karena itu strategi ini memerlukan waktu untuk menjadi sebuah kelompok yang solid.
2. Penilaian kepada siswa didasarkan pada kelompok. Namun guru perlu menyadari keberhasilan ditentukan oleh masing-masing individu.
3. Banyak aktivitas yang hanya didasarkan pada kemampuan individual, oleh karena selain siswa belajar bekerja sama, siswa harus membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu bukan pekerjaan yang mudah.
                          5. Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning)
                               Strategi pembelajaran kontestual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
                                         Pembelajaran kontekstual berdasarkan filosofi konstruktivisme. Menurut Glasersfelf (Kokom Komalasari, 2011:15), konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekakankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri.
                                         Ditjen Dikdasmen menjabarkan kecenderungan tentang belajar berdasarkan konstruktiivisme, yaitu 1) proses belajar,  2) transfer belajar 3),  siswa sebagai pembelajar , 4) pentingnya lingkungan belajar.
                                         Strategi ini sekarang menjadi pembicaraan di kalangan guru sebagai strategi yang paling pas untuk diterapkan karena sesuai dengan pembelajaran berbasis kompetensi yang menekankan pembelajaran ke arah penciptaan dan peningkatan serangkaian kemampuan dan potensi siswa agar dapat   mengantisipasi tantangan dalam kehidupannya. Ini berarti apabila selama ini pembelajaran lebih menekankan pada aspek pengetahuan dan terget materi yang cenderung lebih kearah verbal , saat ini lebih ditekankan pada aspek kompetensi dan target keterampilan.
                          6.  Strategi Pembelajaran Afektif ( Afective Learning)
                                Strategi pembelajaran afektif menekankan pada nilai (value) yang sulit diukur, dimana nilai itu ditanamkan kedalam jiwa peserta didik. Karenanya hal ini berkaitan dengan kesadaran siswa itu sendiri. Apakah perilakunya bertentangan dengan norma-norma ataukah tidak. 
                                        Douglas Graham (Wina Sanjaya, 2011:274) melihat empat faktor yang merupakan kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu:
                               1. Normativis. Biasanya kepatuhan pada norma-norma hukum.
                               2. Integralist. Yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan rasional.
                               3. Fenomalist. Yaitu kepatuhan yang berdasarkan kepada suara hati atau sekedar basa-basi.
                               4. Hedonist. Yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri.
                                         Gulo (Wina Sanjaya, 2011:128) menyimpulkan tentang nilai:
                               1. Nilai tidak bisa diajarkan tetapi diketahui dari penampilannya.
                               2. Pengembangan domain afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik.
                               3. Masalah nilai adalah masalah emosional dan karenaitu dapat berubah, berkembang, sehingga bisa dibina.
                               4. Perkembangan nilai atau moral tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap tertentu.
                                         Di negara kita saat ini pendidikan karakter bangsa bangsa harus bisa diintegrasikan dalam setiap pembelajaran sebagai bentuk implementasi strategi pembelajaran afektif. Hal ini sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
                                         Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa ditanamkan oleh guru disetiap pertemuan sehingga pad akhirnya tidak hanya aspek kompetansi dan terget keterampilan saja yang dicapai namun nilai-nilai afektif yang positif terinternalisasi di setiap tutur kata dan perbuatan siswa.

                2.1.4 Metodelogi Pembelajaran
                          Metodelogi pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (Wina Sanjaya, 2011:147). Berikut ini beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasi strategi pembelajaran.
                          Berdasarkan pemberian informasi:
                             - Metode Ceramah
                             - Metode Tanya Jawab
                             - Metode Demonstrasi
                          Berdasarkan pemecahan masalah:
                             - Metode Curah Pendapat (Brainstorming)
                             - Metode Diskusi Kelompok
                             - Metode Rembuk Sejoli
                             - Metode Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group)
                             - Metode Panel
                             - Metode Forum Debat
                             - Metode Seminar
                             - Metode Simposium

                           Berdasarkan penugasan:
                        - Metode Latihan (Drill)
                        - Metode Penugasan (Resitasi)
                        - Metode Permainan:
                              DIAD
                             Kubus Pecah
                             Role Playing
                             Sosiodrama
                              Simulasi
                                       - Metode Kelompok Kerja (Workshop)
                                       - Metode Studi Kasus
                                       - Metode Karyawisata
1. Metode Ceramah
Metode  Ceramah  yaitu  cara  penyampaian  informasi  secara  lisan  yang  dilakukan  oleh guru  kepada  peserta didik.  Metode  ini  merupakan  yang  paling  banyak  digunakan dalam   kesempatan   penyampaian   informasi   dala kegiatan-kegiatan   pembelajaran.  Hal   ini diakibatkan  adanya  kemampuan  setiap  orang  untuk  berkomunikasi  atau  menyampaikan  pesan kepada orang lain.
          2. Metode Tanya Jawab
Metode   Tany Jawab   yait car penjelasan   informasi   yang pelaksanaanny saling bertanya dan menjawab antara guru dengan peserta didik.
3. Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi yaitu cara memperagakan sesuatu hal yang pelakasanaannya diawali oleh peragaan guru kemudian diikuti oleh peserta didik. Hal yang diperagakan adalah harus kegiatan yang sebenarnya, tidak bersifat abstrak.
4.  Metode Curah Pendapat (Brainstorming)
Metode Brainstorming atau Curah Pendapat yaitu cara untuk menghimpun gagasan atau pendapat dari setiap pesertta dididk  tentang suatu permasalahan.
          5. Metode Diskusi Kelompok
Metode Diskusi Kelompok yaitu cara pembahasan suatu masalah oleh sejumlah anggota kelompok untuk mencapai suatu kesepakatan.
6.  Metode Rembuk Sejoli
Metode Rembuk Sejoli yaitu cara pemecahan suatu masalah yang pelaksanaannya adalah peserta didik dalam kelompok dibagi secara berpasangan kemudian dalam waktu yang singkat masing- masing kelompok membahas suatu masalah dan diakhiri dengan penyampaian laporan nya oleh masing-masing juru bicara dalam kelompok besar.
7. Metode Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group)
Metode Buzz Group  yaitu cara pembahasan  suatu masalah  yang pelaksanaannya peserta didik  dibagi  dalam  kelompok  kecil  antara  tiga  sampai  enam  orang  membahas  suatu  masalah yang diakhiri dengan penyampaian hasil pembahasannya oleh setiap juru bicara pada kelompok besar.
8.  Metode Panel
          Metode  Panel  yaitu  cara  pembahasan  suatu  masalah  melalui  kegiatan  diskusi  yang dilakukan oleh beberapa akhli dari berbagai keakhlian dihadapan peserta didik.
          9.  Metode Forum (Debate)
Metode forum (debate) adalah cara pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi terbuka yang disampaikan oleh beberapa nara sumber dengan topik masalah yang kontroversial.
10. Metode Seminar
Metode  Seminar  yaitu  cara  penyampaian  informasi  berdasarkan  hasil  penelitian  yang diikuti dengan kegiatan diskusi oleh seluruh peserta didik dibawah bimbingan sumber belajar. Kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peserta didik dapat berdasarkan hasil penelitian tentang suatu kasus/masalah, dapat juga hasil bacan/literatur.
11. Metode Simposium
Metode  Simposium  yaitu  cara  penyampaian  materi  secara  lisan  yang  dilakukan  berupa kegiatan ceramah oleh beberapa orang nara sumber.
          12. Metode Latihan (Drill)
Metode  drill  yaitu  cara  melatih  peserta didik  tentang  kegiatan-kegiatan  tertentu  secara berulang-ulang dengan materi yang sama.
13. Metode Penugasan (Resitasi)
Metode Resitasi  yaitu cara pemberian tugas yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik yang pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas, serta dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.
14. Metode DIAD
Metode DIAD yaitu cara komunikasi diantara dua orang baik secara lisan maupun tertulis terutama menyangkut identitas dari masing-masing pribadi.
15. Metode Kubus Pecah (Broken Square)
Metode  Broken  Square  yaitu  cara  penyusunan  pecahan-pecahan  Bujursangkar  yang dilakukan oleh empat atau lima kelompok menjadi bentuk bujur sangkar yang utuh.
          16.  Metode Bermain Peran (Role Playing)
Metode Role Playing yaitu cara permainan yang pelaksanaannya berupa peragaan secara singkat oleh peserta didik dengan tekanan utama pada karakteristik/sifat seseorang dengan dasar memerankan  cuplikan  tingkah  laku  dalam  situasi  tertentu,  yang  dilanjutkan  dengan  kegiatan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan.
17. Metode Sosiodrama
Metode  Sosiodrama  yaitu  cara  permainan  yang  pelaksanaannya  berupa  peragaan  oleh peserta didik   dengan   tekanan   utam pad karakteristik/sifa seseoran dengan   dasar memerankan  tingkah laku dalam situasi tertentu dengan didasarkan pada cerita yang utuh, yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan.
18.  Metode Simulasi
Metode  Simulasi  yaitu  cara  permainan  yang  berupa  cuplikan  suatu  situasi  kehidupan nyata yang diangkat ke dalam kegiatan belajar.
          19. Metode Kelompok Kerja (Workshop)
Metode   kelompo kerj adala car pembelajaran   yan melibatkan   peserta   dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas.
          20. Metode Studi Kasus
Metode studi kasus yaitu cara penelaahan suatu kasus nyata di lapangan melalui kegiatan penelitian, yang diakhiri dengan kegiatan penyampaian laporan.
21. Metode Karyawisata
Metode   Karyawisata   yaitu   car mengunjung suatu   tempat/obje tertentu   dengan melibatkan seluruh warga belajar, dengan kegiatan ada unsur karya dan unsur wisatanya.

          2.2  Penilaian (Assesment)
                 Sebelum guru melakukan penilaian kepada peserta didik, tentunya guru harus mempunyai cara untuk melakukan penilaian. Istilah ini disebut dengan pengukuran  (measurement), dimana pengukuran ini akan menghasilkan data berupa angka-angka. Maka pengukuran adalah pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu.
                         Peraturan Menteri Pendidikan no 20 tahun 2007 menyebutkan standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mmekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil peserta didik. Standar penilaian pendidikan terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah.
                         Penilaian hasil belajar oleh peserta didik terdiri dari:
Ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas. Jadi, penilaian adalah penerapan berbagai prosedur, cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar atau kompetensi siswa.
                 A. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran dilakukan melalui:
                     1. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk aspek afektif.
                     2. Ujian, ulangan dan/atau penugasan untuk aspek kognitif.
B. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:
                     1. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk aspek afektif.
                     2. Ujian, ulangan dan/atau penugasan untuk aspek kognitif.
C. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui:
                     1. Ulangan
                     2. Penugasan dan/atau
                     3. Bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai
                 D. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui:
                     Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk aspek afektif dan ekspresi psikomotorik.
E. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran  jasmani,olahraga dan kesehatan dilakukan melalui:
1. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk aspek afekktif dan ekspresi psikomotorik.
                     2. Ulangan dan/atau penugasan untuk aspek kognitif.
                 Selain penilaian-penilaian di atas ada juga penilaian dalam standar proses. Penilaian standar proses adalah penilaian hasil belajar menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. Teknik penillaian dapat berupa tes tertulis, observasi, tes praktik, penugasan perseorangan, atau kelompok.
                 2.2.1 Penilaian Kelas
                 Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan mengukur apa yang hendak diukur dari siswa. Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui  tingkat penguasaan kompetensi yang ditetapkan bersifat internal, bagian dari pembelajaran, dan sebagai bahan untuk peningkatan mutu hasil belajar.
Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab latar belakang, bahwa penilaian dalam KTSP mengacu pada kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Ketuntasan dilakukan per KD, artinya nilai yang diberikan kepada siswa harus per KD. Nilai dalam tiap KD  inilah yang menentukan lulus tidaknya siswa pada KD tersebut. Siswa yang memperoleh nilai KD lebih dari atau sama dengan KKM KD itu dinyatakan lulus dalam KD tersebut dan kepadanya boleh diberi pengayaan. Sebaliknya, siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM pada KD itu wajib diberi remedial melalu program remedial.
                        Digunakan istilah kelas tidak berarti penilaiannya hanya dilakukan di dalam kelas. Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu denga kegiatan belajar mengajar. Penilaian kelas dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas, secara formal dan informal atau dilakukan secara khusus.

2.2.2 Manfaat Penilaian Kelas
Manfaat penilaian kelas adalah:
1.Sebagai umpan balik siswa agar mengetahui kemampuan dan kekurangannya.
                 2. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami siswa.
                 3. Sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
                 4. Sebagai informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.       
                         Menurut Kokom Komalasari, 2011:146, masih ada istilah yang berkaitan dengan penilaian yaitu evaluasi (evaluation). Evaluasi merupakan penilaian terhadap keseluruhan program (termasuk didalamnya pelaksanaan penilaian) serta hasil-hasil yang dicapai oleh program pendidikan. Hubungan antara pengukuran, penilaian dan evaluasai dalam pendidikan dapat dilihat dalam gambar berikut.






Gambar 1. Hubungan antara Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi
(Sumber:  Kokom Komalasari, 2011:147)

                 Dari gambar di atas dapat disimpulkan pengukuran merupakan tahap awal dalam proses penilaian, penilaian merupakansalah satu aspek dari evaluasi pendidikan, sedangkan evaluasi merupakan penilaian terhadap keseluruhan program pendidikan.
                 2.2.3 Bentuk Penilaian

·       Wawancara
·       Pengamatan/Observasi
·       Karangan/Produk
·       Kusioner
·       Portofolio
·       Pemberian tugas
·       Penilaian proyek

 
                 Dalam prakteknya penilaian kelas sangat beragam. Jenis dan model mana yang dipakai amat tergantung pada jenis kompetensi dan indikator hasil belajar yang dicapai, tipe materi pembelajaran, dan tujuan penilaian itu sendiri.                                                                                                                      
                                               





      




Gambar 2. Diagram Teknik Penilaian
                 Ada berbagai bentuk penilaian yang biasa dilakukan dalam penilaian kelas yaitu, penilaian unjuk kerja (performance), penilaian penugasan (project), penilaian hasil kerja (product), penilaian tes tertulis (paper & pen), penilaian portofolio (portofolio), penilaian sikap.
                 1. Penilaian Unjuk Kerja (Performance)
                      Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa. Penilaian ini biasanya digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam berpidato, pembacaan puisi,diskusi, pemecahan masalah, partisipasi siswa dalam diskusi, menari, memainkan alat musik, aktivitas olahraga, menggunakan perangkat laboratorium, mengoperasikan suatu alat, dan aktivitas lain yang bisa diamati/diobservasi.
2. Penilaian Penugasan (Project)
Penilaian melalui proyek dilakukan terhadap suatu tugas atau penyelidikan secara individual atau kelompok untuk periode tertentu. Tugas tersebut berupa investigasi sejak dari perencanaan,pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.
3. Penilaian Hasil Kerja (Product),  merupakan penilaian terhadap siswa untuk membuat produk-produk teknologi dan seni seperti, makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, pahatan), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik dan logam. Cara ini tidak hanya melihat hasil akhirnya saja tetapi juga dari proses pembuatannya, contoh kemampuan siswa melakukan teknik menggambar, menggunakan peralatan dengan aman, membakar kue dengan hasil baik,bercita rasa enak dan berpenampilan menarik.
4. Penilaian Tes Tertulis (Paper & Pen)
Tes tertulis biasanya untuk waktu yang terbatas dan dalam kondisi waktu terbatas dan dalam kondisi tertentu. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada siswa dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab tulisan siswa tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.
5.  Penilaian Portofolio (Portofolio)
Penilaian portofolioadalah penilaian berdasarkan kumpulan hasil kerja siswa. Portofolio dihasilkan dari pengalaman  belajar atau pembelajaran siswa dalam periode waktu tertentu. Portoofolio merupakan koleksi pribadi hasil pekerjaan seseorang yang menggambarkan taraf pencapaian, kegiatan belajar, kekuatan, dan pekerjaan terbaik siswa. Contoh karya-karya yang dimasukkan dalam penilaian portofolio, puisi, karangan, gambar/tulisan, peta/denah, desain, paper, laporan observasi, laporan penyelidikan, laporan penelitian, laporan eksperimen, sinopsis, naskah pidato/khotbah, naskah drama, naskah doa,rumus, kartu ucapan, surat, komposisi musik, teks lagu, resep masakan.
6. Penilaian Sikap
Penilaian sikap merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati perasaan, kepercayaan atau keyakinan siswa dan kecenderungan untuk berperilaku berkaitan dengan suatu objek (Kokom Komalasari, 2011-156).
Ojek sikap yang perlu dinilai:
1. Sikap terhadap materi pelajaran. Siswa perlu memilki sikap positif terhadap mata pelajaran.
2. Sikap terhadap guru/pengajar. Siswa perlu memiliki sikap positif terhadap guru, sehingga dapat memusatkan perhatian pada apa yang diajarkan oleh guru dan pada akhirnya mudah menyerap materi.
3. Sikap terhadap siswa lain (teman). Siswa perlu memiliki sikap sosial yang baik terhadap teman-temannya.
4. Sikap terhadap proses pembelajaran. Siswa juga perlu memiliki sikap yang baik terhadap suasana pembelajaran, startegi, metodelogi dan teknik pembelajaran yang digunakan, sehingga mendapat hasil yang maksimal.
5. Sikap yang berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan mata pelajaran. Siswa perlu memiliki sikap yang tepat yang dituntut kompetensi dasar.

                        2.2.4 Ujian (Examination)
                                    Sebelum akhir dari proses penilaian ditentukan ada yang disebut dengan ujian. Ujian adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pembenaran dari suatu atribut, pengakuan, atau kualitas dari suatu barang, jasaatau kompetensi. Contohnya, pengujian air bersih, pengujian kompetensi siswa, dan sebagainya. Oleh karena itu ujian adalah proses penilaian yang harus dilewati oleh siswa. Ujian dilaksanakan berdasarkan waktu yang ditentukan.
                                                Setelah ujian dilaksanakan dan penilaian diberikan, maka dilakukan evaluasi. Evaluasi ini dilakukan antara lain di bidang kurikulum, kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu,etos kerja guru dan tentu saja siswa itu sendiri.


III   Penutup
       3.1 Kesimpulan
1. Pembelajran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika seorang guru berfikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimilki oleh siswa maka guru seharusnya berfikir strategi dan metoode apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Begitu banyak strategi dan metode pembelajaran bukan berarti semua cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Guru harus memiliki kemampuan untuk dapat memilih strategi dan metode mana yang paling pas untuk melaksanakan proses pembelajaran.
2. Sudah dapat dipastikan bahwa seorang guru harus mengetahui berbagai jenis strategi dan metode pembelajaran agar dapat menentukan mana yang paling sesuai untuk digunakan. Tanpa pengetahuan tentang strategi dan metode pembelajaran dikhawatirkan guru tidak mempunyai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
3. Penilaian adalah penerapan berbagai prosedur, cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi sejauh mana ketercapaian hasil belajar atau kompetensi siswa. Seorang guru harus melakukan penilaian sebagai penanggung jawab pproses pembelajaran yang nantinya penilaian itu akan menjadi tolak ukur bagi guru untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dan untuk memperbaiki kekurangan guru ketika melakukan proses pembelajaran.
4. Penilaian dapat mengukur perubahan seseorang karena sebelum penilaian ditentukan terdapat prose pengumpulan data yang berguna bagi guru untuk mnegetahui perubahan yang terjadi.
5. Sama seperti strategi dan metode pembelajaran, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan tentang macam-macam penilaian. Supaya tidak satupun perubahan siswa yang tidak diketahui oleh seorang guru. Disamping itu guru akan lebih mengenal diri siswa dimana letak kelemahan dan kekuatannya.
6. Pembelajaran adalah proses, sedangkan penilaian adalah muara dari pembelajaran. Penghargaan seseorang di dapat dari pembelajaran dan penilaian.
       3.2  Saran
1. Strategi dan metode mengajar hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan kondisi sekolah dan siswa agar apa yang disampaikan dapat dicerna,  dikuasai dan dimengerti oleh peserta didik.
2. Pendidik hendaknya mempunyai keterampilan strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi.
3. Bagi mereka yang terlibat di dunia keguruan, hendaknya secara antusias untuk meningkatkan wawasan/ilmu pengetahuan, khususnya yang terkait, baik langsung maupun tidak langsung dengan dunia pendidikan.


      



DAFTAR PUSTAKA



Ahmadi, I. Khoiru, Sofan Amri, Hendro Ari setyono, Tatik Elisah (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP. Jakarta. Prestasi Pustakaraya.

Komalasari, K. (2011). Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung. Refika Aditama.
Keputusan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah NOMOR : 251/C/KEP/MN/2008 TENTANG SPEKTRUM KEAHLIAN PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN.

Muslich, M. (2009). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta. Bumi Aksara.

Sanjaya, W. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta.Kencana.

Training Pembuatan Perangkat Pengajaran. (2011). Lampung Selatan. SMK Negeri 1 Natar.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda